Di Balik Janji Keuntungan Bitcoin, Ada Pola Risiko yang Mirip Judi Online

Di Balik Janji Keuntungan Bitcoin, Ada Pola Risiko yang Mirip Judi Online
Di Balik Janji Keuntungan Bitcoin, Ada Pola Risiko yang Mirip Judi Online. Foto: Istimewa

BISNIS, Angsoduo.net – Dalam beberapa tahun terakhir, bitcoin semakin sering dipromosikan sebagai instrumen investasi digital. Sementara itu, judi online dikenal luas sebagai aktivitas berisiko tinggi yang dapat merugikan kondisi finansial individu maupun keluarga.

Namun jika dilihat dari pola praktik di masyarakat, bitcoin dan judi online memiliki sejumlah kesamaan mendasar—terutama dari sisi manajemen risiko, spekulasi harga, dan perlindungan konsumen.

Bacaan Lainnya

Artikel ini membahasnya secara rasional, bukan emosional.

1. Sama-Sama Mengandalkan Pergerakan Harga yang Tidak Stabil

Bitcoin termasuk aset dengan volatilitas tinggi.
Harga dapat naik dan turun tajam dalam waktu singkat, dipengaruhi oleh sentimen pasar global, bukan kinerja ekonomi riil.
Hal serupa terjadi pada judi online:
Hasil tidak dapat diprediksi
Risiko kerugian selalu lebih besar dari potensi keuntungan jangka panjang
Dalam dunia keuangan, kondisi ini dikenal sebagai high risk, low certainty.

2. Risiko Psikologis yang Sering Diabaikan Investor Pemula

Banyak individu masuk ke bitcoin tanpa pemahaman literasi keuangan yang cukup.
Keputusan investasi sering dipicu oleh:
Fear of Missing Out (FOMO)
Tekanan sosial
Konten promosi berlebihan
Pola ini identik dengan judi online, di mana keputusan tidak lagi rasional, melainkan emosional.
Dalam jangka panjang, keputusan finansial berbasis emosi hampir selalu berujung kerugian.

3. Tingkat Kerugian Tinggi pada Pelaku Ritel
Dalam praktik pasar:

Investor besar memiliki data, modal, dan akses informasi
Investor kecil sering masuk terlambat
Akibatnya, sebagian besar pelaku ritel:
Membeli saat harga tinggi
Menjual saat harga jatuh

Fenomena ini mirip dengan judi online, di mana penyelenggara dan pemain lama memiliki keunggulan sistemik, sementara pemain baru lebih sering menjadi pihak yang dirugikan.

4. Minim Perlindungan Konsumen dan Regulasi Efektif

Berbeda dengan produk keuangan formal seperti:
Deposito
Obligasi
Reksa dana
Bitcoin tidak memiliki:
Jaminan dana
Lembaga penjamin resmi
Mekanisme pengembalian kerugian
Jika terjadi:
Kesalahan transaksi
Penutupan platform
Peretasan digital

Kerugian sepenuhnya ditanggung pengguna.
Situasi ini sejalan dengan judi online yang juga tidak memberikan perlindungan konsumen yang memadai.

5. Narasi Investasi yang Menutupi Risiko Nyata

Baik bitcoin maupun judi online kerap dipromosikan melalui narasi:
“Jika paham caranya, pasti untung”
“Risiko bisa dikendalikan”
Dalam praktik keuangan profesional, klaim semacam ini justru menjadi indikator peringatan.
Tidak ada instrumen berisiko tinggi yang menjamin keuntungan konsisten.

6. Dampak Finansial Jangka Panjang bagi Individu dan Keluarga

Kerugian dari spekulasi aset digital tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga:
Stabilitas ekonomi keluarga
Kemampuan menabung
Perencanaan keuangan jangka panjang
Dalam banyak kasus, kerugian kripto memicu:
Hutang konsumtif
Penjualan aset produktif
Tekanan psikologis

Kondisi ini serupa dengan dampak sosial judi online yang telah banyak diteliti.

Kesimpulan: Bitcoin dan Judi Online dalam Kacamata Keuangan Rasional

Bitcoin dan judi online memang berbeda secara definisi. Namun dari perspektif risiko keuangan, keduanya memiliki kemiripan signifikan:
Sama-sama spekulatif
Volatilitas tinggi
Minim perlindungan konsumen
Berpotensi merugikan pelaku ritel

Bitcoin bukan instrumen keuangan ideal bagi individu tanpa literasi finansial, manajemen risiko, dan dana khusus berisiko.

Dalam dunia keuangan, prinsipnya sederhana:
Semakin tinggi janji keuntungan, semakin besar potensi kerugian.

Catatan untuk Pembaca

Artikel ini bersifat edukasi finansial, bukan ajakan atau larangan investasi.
Keputusan keuangan tetap berada di tangan masing-masing individu. (ndy)

Pos terkait