FILM, Angsoduo,net – Menonton film Mamasan (2025) rasanya seperti membuka pintu ke sebuah ruangan yang selama ini ditutup rapat. Gelap, pengap, dan penuh rahasia. Film Filipina ini tidak datang dengan niat menghibur secara ringan. Ia datang untuk mengguncang, membuat tidak nyaman, dan memaksa penonton melihat sisi dunia yang sering dianggap tabu, bahkan sengaja diabaikan.
Dari judulnya saja, Mamasan, kita sudah bisa menebak bahwa film ini akan bersinggungan dengan dunia prostitusi, perdagangan tubuh, dan relasi kuasa yang timpang. Namun yang membuat film ini berbeda adalah caranya bercerita. Tidak sensasional berlebihan, tidak pula menggurui. Ia dingin, pelan, dan justru karena itu terasa menusuk.
Film ini bukan tentang erotisme. Ia tentang kontrol. Tentang bagaimana tubuh perempuan diposisikan sebagai komoditas. Tentang sistem yang membuat kejahatan terlihat seperti rutinitas biasa.
Cerita yang Sederhana, Tapi Menyimpan Beban Berat
Mamasan berpusat pada sosok perempuan paruh baya yang menjalankan bisnis hiburan malam kelas atas. Ia bukan karakter antagonis hitam-putih. Ia juga bukan korban murni. Ia berada di wilayah abu-abu yang tidak nyaman.
Sebagai mamasan, ia mengatur perempuan-perempuan muda, klien berduit, aparat yang tutup mata, dan jaringan kekuasaan yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Setiap keputusan yang ia ambil selalu membawa konsekuensi, dan film ini tidak pernah membiarkan penonton lupa akan harga yang harus dibayar.
Alur cerita berjalan pelan. Tidak banyak ledakan konflik besar, tapi justru di situlah kekuatannya. Ketegangan dibangun lewat percakapan singkat, tatapan mata, dan keheningan yang panjang. Penonton dipaksa membaca situasi, bukan disuapi penjelasan.
Karakter Perempuan yang Kompleks dan Manusiawi
Salah satu kekuatan utama Mamasan adalah penulisan karakternya. Hampir semua karakter perempuan di film ini tidak dibuat sebagai stereotip. Tidak ada tokoh “perempuan lemah” atau “perempuan jahat” yang dangkal.
Mamasan sebagai tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang pragmatis, dingin, tapi menyimpan trauma dan ketakutan. Ia tahu sistem ini busuk, tapi ia juga tahu keluar dari sistem berarti mati pelan-pelan.
Para perempuan muda yang bekerja di bawahnya juga tidak diposisikan sebagai objek semata. Film memberi ruang bagi mereka untuk menunjukkan rasa takut, ambisi, kemarahan, dan keputusasaan.
Di sinilah film ini terasa sangat Filipina, sekaligus universal. Cerita ini bisa terjadi di Manila, Bangkok, Jakarta, atau kota besar mana pun di Asia Tenggara.
Visual Gelap yang Jujur dan Tidak Menggoda
Secara visual, Mamasan memilih tone gelap, kusam, dan minim glamor. Dunia malam yang biasanya ditampilkan penuh cahaya dan sensualitas justru dibuat terasa muram dan melelahkan.
Lampu neon tidak pernah terlihat indah. Ruangan mewah terasa pengap. Kamera sering berada dekat dengan wajah karakter, seolah tidak memberi mereka ruang untuk bersembunyi.
Pengambilan gambar yang statis dan minim gerakan kamera membuat penonton merasa seperti pengamat pasif, menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dilihat, tapi nyata adanya.
Film ini dengan sadar menghindari estetisasi tubuh. Adegan dewasa ada, tapi selalu terasa dingin, mekanis, dan tidak romantis. Sebuah keputusan artistik yang berani.
Kritik Sosial yang Tajam Tanpa Teriakan
Mamasan tidak pernah berteriak soal kritik sosialnya. Ia tidak menyebut kata “patriarki”, “kapitalisme”, atau “eksploitasi” secara eksplisit. Tapi semua itu hadir di setiap adegan.
Film ini bicara tentang bagaimana kemiskinan, mimpi palsu, dan kekuasaan menciptakan siklus yang sulit diputus. Tentang aparat yang seharusnya melindungi, tapi justru menjadi bagian dari masalah. Tentang klien-klien kaya yang merasa berhak atas segalanya karena uang.
Yang paling menyakitkan, film ini menunjukkan bagaimana perempuan sering kali dipaksa menjadi pelaku demi bertahan hidup, lalu dihakimi sebagai penjahat.
Akting yang Terkontrol dan Meyakinkan
Pemeran utama tampil sangat kuat tanpa perlu dialog panjang atau ekspresi berlebihan. Tatapan matanya sudah cukup untuk menyampaikan kelelahan, paranoia, dan rasa bersalah yang menumpuk.
Tidak ada akting teatrikal. Semuanya terasa realistis, seperti potongan kehidupan nyata yang direkam diam-diam. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meski juga membuatnya berat untuk ditonton.
Beberapa pemeran pendukung bahkan mencuri perhatian lewat adegan singkat, terutama karakter perempuan muda yang berada di ambang kehancuran mental.
Film yang Tidak Ramah untuk Semua Orang
Perlu jujur di sini. Mamasan bukan film untuk semua penonton. Ritmenya lambat, temanya berat, dan atmosfernya depresif. Tidak ada hiburan ringan, tidak ada pelarian emosional.
Penonton yang terbiasa dengan film Asia yang penuh twist atau drama melodramatis mungkin akan merasa film ini membosankan. Tapi bagi penonton yang menikmati film reflektif dan realistis, Mamasan justru terasa sangat kuat.
Film ini menuntut kesabaran dan kesiapan mental.
Posisi Mamasan dalam Sinema Filipina
Dalam konteks sinema Filipina, Mamasan melanjutkan tradisi film-film sosial yang berani membongkar sisi gelap masyarakat. Ia sejalan dengan karya-karya yang menempatkan manusia kecil di tengah sistem besar yang kejam.
Film ini juga menunjukkan bahwa perfilman Filipina semakin percaya diri mengangkat tema sensitif tanpa harus mencari legitimasi Barat. Ceritanya lokal, tapi pesannya global.
Kesan Akhir: Film yang Membekas, Bukan Menyenangkan
Setelah film berakhir, Mamasan tidak langsung hilang dari pikiran. Ia tinggal. Mengganggu. Membuat tidak nyaman. Dan justru karena itu, film ini penting.
Ini bukan film yang akan kamu rekomendasikan untuk hiburan akhir pekan. Ini film yang pantas ditonton ketika kamu siap diajak berpikir, merenung, dan mungkin merasa bersalah sebagai bagian dari sistem yang lebih besar.
Mamasan (2025) adalah potret kelam yang jujur. Tidak menawarkan solusi, tidak menjanjikan harapan palsu. Ia hanya menunjukkan realitas, lalu membiarkan penonton menanggung bebannya sendiri.
Dan kadang, film terbaik memang bekerja seperti itu. (ndy)





