Kisah Kesombongan Mahluk Terkuat di Bumi

oleh -340 Dilihat
Ilustrasi Gunung Kerinci, dongeng kisah kesombongan gunung.
Ilustrasi Gunung Kerinci, dongeng kisah kesombongan gunung.

Kisah Kesombongan Mahluk Terkuat di Bumi

Kisah Cerita Semacam Dongeng Sufi ini disarikan oleh : Ayah Guru *

Di satu tempat, berkumpullah mahluk ciptaan Allah SWT yang mengaku paling kuat dan paling berkuasa atas satu sama lainnya. Masing masing mengaku paling kuat dan paling berkuasa. Mereka ialah ; Api, Air, Awan dan Gunung.

Pertama, Api berdirilah dengan sombong. Ia mengaku paling kuat di antara semua mahluk ciptaan Allah SWT.

“Aku bisa membakar apa saja hingga musnah. Beri aku apapun, akan kulahap sampai tak tersisa,” teriak Api membahana.

Kawan kawannya yang lain hanya tersenyum melihat kesombongan Si Api.

Baru selesai bicara begitu, tiba tiba Air melompat dan mengguyur habis Si Api. Api langsung padam. Asapnya pun lama-lama tiada.

Berdiri pula Si Air.

“Kalian lihat. Akulah yang paling kuat. Apapun bisa kutenggelamkan. Apalagi sekedar Api,” kata Air dengan lantang.

Cukup lama yang lain menatap Si Air. Ia masih berdiri kekar dan tegap ketika tiba-tiba tubuhnya mulai menguap.

“Apa ini?!” teriak Si Air.

Ternyata, diam-diam Awan telah terbang di atasnya. Diam diam pula Si Awan menghisap Si Air hingga lambat laun air habis memuai dan berkumpul menjadi awan.

“Lihat. Air yang mengalahkan Api, sekarang sudah berada di dalam tubuhku. Siapa yang lebih kuat kalau bukan aku!”

Posisi awan kini benar-benar di atas. Bersama-sama partner sejatinya, Angin, Awan mengitari bumi membawa Air di dalam tubuhnya.

Dan air, sangat tak berdaya di bawah kendali awan dan angin.

Tetapi persis ketika kesombongan awan meningkat, saat itu pula terbangnya terhenti oleh gunung.

Gunung bahkan tak sekedar menghentikan awan. Si Gunung malah menahan awan agar selalu berada di dekat puncaknya.

Sekarang malah posisi Awan yang tak berdaya di tangan kekuasaan Gunung.

Kau lihat awan. Siapa yang sekarang yang lebih hebat? Aku atau engkau. Atau api, atau air? Ini buktinya, kukalahkan kalian semua!”

Giliran Si Gunung yang sombong. Dengan ketinggiannya yang membelah langit, gunung membuat awan tak berkutik.

Apalagi Si Gunung tahu, bahwa selain bisa mengendalikan awan, ia juga bisa mengendalikan air dan api di dalam kawah dan kaki-kakinya yang terbentang jauh.

Karena punya kekuasaan lengkap, gunung mulai lupa diri. Kesombongannya mulai meningkat pula.

Tetiba, Si Gunung dikagetkan oleh mesin-mesin yang menggunduli hutan di tubuhnya. Mesin mesin itu bahkan menggali tanah serta batu di bagian bagian tubuhnya.

Begitu dilihatnya ke bawah, ternyata itu ulah manusia. Ya, manusia ternyata mampu melawan dirinya, Si Gunung yang mampu mengendalikan api, air, angin dan awan.

Gunung benar benar tak berdaya. Lambat laun ia habis menjadi bahan bangunan oleh manusia.

“Bagaimana? Siapa sekarang yang paling kuat? Tentu manusia lah. Kami ini pemimpin di bumi ini, jadi apapun di bawah kendali kami.”

Begitu kata manusia yang sudah menaklukkan gunung. Ia mulai sombong melebihi kesombongan gunung.

Manusia terus berkeliaran di muka bumi hingga akhirnya ia terkantuk. Karena mengantuk, manusia yang telah mengalahkan gunung itu tertidur pulas dan tak berdaya.

Karena bagaimanapun kuatnya manusia atau mahluk hidup, kalau sudah tidur, ia akan sangat lemah dan tak berdaya.

Saat itulah muncul Kantuk. Si Kantuk ini memproklamirkan kepada seluruh alam bahwa dialah yang paling kuat dan paling berkuasa.

Sekali ia bekerja, seketika itu semua mahluk hidup akan lemah tak berdaya.

Baru saja sombong dan sesumbar begitu, kantuk atau ngantuk dikagetkan dengan mahluk-mahluk yang matanya selalu terbuka. Manusia manusia yang tak bisa tidur sama sekali meski sudah berupaya keras agar bisa tidur.

Kantuk kebingungan. “Ada apa ini? Kenapa manusia kehilangan rasa kantuk?” tanya Si Kantuk.

Tak berapa lama ia mendapati ada mahluk lain yang muncul. Mahluk itu mengaku bernama Gelisah. Ya, kini Si Gelisah mengumumkan bahwa dialah Sang Juara.

Gelisah mampu menghilangkan kantuk. Manusia yang diserang gelisah, akan benar benar tak berdaya sehingga sama sekali tak merasa mengantuk dan tak bisa tidur.

Gelisah ini lebih ganas dari mahluk mahluk lain. Semakin kuat gelisah, semakin besar kerusakan yang disebabkannya kepada tubuh maupun kepada alam sekitar.

Belum juga puas bersombong diri, Si Gelisah pelan pelan memudar. Ia bahkan hilang tanpa bekas.

Lalu siapakah yang berhasil mengalahkan Gelisah -yang telah mengalahkan api, air, angin, awan, gunung dan manusia-?

Ternyata, itu ialah zikir yang menenangkan hati. Karena Si Gelisah singgasananya berada di dalam hati, Zikir menghajarnya dengan keras dan terus menerus sehingga gelisah musnah ditelan ketenangan.

Jadi, apa yang paling kuat di bumi fana ini? Ternyata, itu ialah dzikir atas nama Allah SWT, Sang Maha Pencipta Alam Raya dan Sang Berkuasa atas segala sesuatunya.(Kisah ini ditulis ulang oleh Monas Junior)

* Ayah Guru, panggilan mulia murid kepada Guru Tasawuf di Surau Ar-Rahmanul Mursyida di Lubuk Minturun Padang Sumatera Barat, YML Sayyidi Syaikh Asrul Bakar (murid YML Sayyidi Syaikh Prof Kadiru Yahya). Cerita dongeng ini disarikannya dari cerita negeri Timur Tengah.

Sumber: Jambiseru.com

No More Posts Available.

No more pages to load.