Cerita Rakyat Jambi Dongeng Anak : Hantu Mangun oleh Monas Junior

oleh -275 Dilihat
Ilustrasi Dongeng cerita rakyat jambi Hantu Mangun.
Ilustrasi Dongeng cerita rakyat jambi Hantu Mangun.

Angsoduo.net – Berikut salah satu cerita rakyat yang dijadikan dongeng untuk dibacakan kepada anak sebelum tidur. Dipercaya, membacakan kisah-kisah dongeng kepada anak anak sebelum tidur, akan memicu perkembangan otak kanan anak sehingga lebih kreatif dan cerdas.

“Hantu Mangun”
oleh Monas Junior *

Zaki Kusnadi namanya. Anak SD yang baru kelas 3. Sehari-hari Zaki diisi dengan hp, hp dan hp saja.

Pagi-pagi ia dibangunkan dengan susah payah oleh Mama-nya. Setelah bangun, ia juga akan sulit disuruh mandi lalu siap-siap ke sekolah.

Ayahnya, Pak Rolis, sering pula memarahinya karena sukar sekali disuruh ke sekolah. Sampai-sampai, setiap pagi Pak Rolis harus bolak balik dari kebun sawit ke rumah hanya demi memastikan anak bujang-nya yang satu itu berangkat sekolah.

Padahal jarak dari rumah ke sekolahnya tak begitu jauh. Persis di belakang lapangan sepak bola sekitar 200 meter dari rumahnya. Namun Zaki tiap hari enggan ke sekolah.

“Mau jadi apa kamu, Nak, kalau tak sekolah. Biar anak dusun, kamu harus pintar, supaya tak dibodoh-bodohi dunia,” Bu Rabayah, ibu Zaki, menasehatinya setiap pagi.

Ini hari Jumat. Zaki, seperti biasa, berjalan pelan keluar rumahnya. Berseragam SD merah putih, Zaki melangkahkan kakinya ke SD yang tak jauh dari rumahnya itu.

Kali ini ia tepat waktu sampai di sekolah. Pelajaran pertama dimulai, yang kedua, ke tiga, hingga bel sekolah berbunyi menandakan sudah waktunya pulang.

Zaki berlari keluar dari sekolahnya. Tak berapa lama ia sampai di rumah. Bergegas mencari HP kesayangannya, lalu membuka aplikasi game online.

Ya, begitulah Zaki. Mulai dari pulang sekolah, sampai lewat sholat Jumat, ia terus tenggelam dalam game online Mobile Legend. Ketika capek, ia makan. Setelah itu kembali masuk kamar dan melanjutkan permainan ML-nya.

Kalau bosan, Zaki akan bermain game online lain. Favoritnya setelah Mobile Legend adalah Free Fire. Begitu terus diselang seling olehnya sampai waktu magrhib tiba.

“Zakiii… mandi! Sholat! Main ML terus!” teriak Pak Rolis, ayahnya.

Zaki diam. Pura pura tak dengar. Ia masih asyik berada di dunia Free Fire.

Kali ini ayahnya sudah hilang kesabaran. Dia masuk ke kamar. Merebut HP dari tangan Zaki.

“Main game online boleh. Jangan lupa waktu, Zaki! Kamu mau diculik hantu Mangun. Dia itu senang dengan anak yang nakal apalagi nakalnya pas waktu Magrib.”

“Mana ada zaman sekarang hantu-hantu, Pak,” Zaki menimpali.

“Eh kamu! Allah itu Maha Gaib. Tentu yang gaib-gaib di dunia ini banyak karena ciptaa-Nya.”

“Bapak ngarang aja.”

“Kamu ya dibilangi melawan trus. Sudah, mandi sana. Habis tu sholat. Mana tadi ndak Jumatan kamu.”

“Iya… Iya, Pak.”

Bocah kurus itu berdiri lalu dengan malas beranjak ke kamar mandi.

*

“Mak. Hantu Mangun itu apa?”

Zaki bertanya kepada ibunya satu malam. Saat itu ia baru saja memenangkan MPL mingguan Mobile Legend. Hatinya sedang riang.

“Ooo… Hantu Mangun itu hantu yang tugasnya memberi tahu orang soal kematian. Kalau ada keluarga atau orang dekat kita meninggal, biasanya Hantu Mangun ngasih tahu ke kita.”

“Hah? Ngasih tahunya kek mana, Mak?”

“Ini cerita turun temurun di dusun kita, Nak. Kita orang Dusun Dalam Bathin VIII Sarolangun, percaya kalau ada yang ngetuk ngetuk pintau atau jendela kita di malam hari, itu Hantu Mangun yang melakukannya. Biasanya tak lama setelah itu, kita dapat kabar bahwa ada orang dekat kita yang meninggal.”

“Berarti Hantu Mangun itu baek, kan, Mak?”

“Baek lah kayaknya. Tapi sebaik-baik hantu atau jin, kan sejahat-jahat manusia, Nak. Kamu kok nanya soal Hantu Mangun? Mak kan dak pernah cerita…”

“Bapak yang cerita. Katanya kalau anak nakal sering diculik Hantu Mangun di waktu Magrib.”

Mak Zaki terdiam. Berpikir sejenak.

“Hah, Bapak kamu sudah betul, itu. Kalau tak mau diculik Hantu Mangun, kamu harus jadi anak yang baek dan soleh. Kalau Magrib itu mandi, sholat, jangan nge-game trus,” kata Mak Zaki.

“Ah, Mak sama Bapak sama saja. Suka nakut nakutin anak kecil.”

Zaki berdiri kemudian berlari masuk ke kamarnya.

*

Habis Sholat Isya, warga kampung berkumpul di masjid. Semua gelisah dan berbicara satu sama lain. Orang tua Zaki paling cemas.

Ternyata, sejak sebelum Magrib tadi, Zaki menghilang. Dicari cari ke manapun, bocah satu itu tak ditemukan.

Pak Kades, Mulis, bergegas melaporkan kehilangan ini ke polsek terdekat. Setelah itu ia mengundang orang untuk berempuk di masjid setelah mencari Zaki ke seluruh penjuru desa.

Tapi Zaki tak ditemukan hingga Subuh.

Orang-orang mulai menyerah. Pulang. Sholat Subuh. Lalu sebagian tidur sebagian lagi ke kebun.

Pencarian terhadap Zaki terus dilakukan hingga ber minggu minggu kemudian.

*

Di satu sisi, Zaki terbangun setelah seseorang menggoyang goyang tubuhnya dengan keras. Ia kaget ketika membuka mata, ternyata dirinya berada di dalam satu kamar gelap dengan 5 anak sesusianya. Semua anak laki laki.

“Aku di mana?”

Kata Zaki kepada orang yang membangunkannya. Seorang bocah berwajah pucat, kepala botak, beralis tebal, bertubuh kurus.

“Sss… jangan ribut. Nanti dimarahin Datuk.”

Ucap bocah bernama Wandi itu.

Zaki duduk. Melihat ke atas, ke kiri, ke belakang, ke depan, lalu berusaha berdiri. Tetapi Wandi menahannya.

“Sudah… duduk saja. Makin kau tenang, makin aman kamu.”

Zaki terpaksa menurut. Ia makin ketakutan melihat 4 anak laki laki lain yang tak dikenalnya, juga berwajah pucat, tubuh kurus dan kepala plontos.

Mereka hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Semua menatap Zaki dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Kamu ngapain sampai di sini?”

“Gak ngapa ngapain.”

“Sebelum kamu kubangunkan tadi, kami lagi ngapain?”

“Aku lagi nge-game di kamar, tau tau aku tertidur,” kenang Zaki.

“Waktu itu dekat Magrib?” tanya Wandi, lagi.

“Iya…”

“Pantas.”

“Pantas kenapa?” tanya Zaki, cemas.

Wandi tak menjawab. Ia berdiri, lalu duduk di dekat 4 kawannya yang lain.

“Sini,” perintah Wandi.

Takut takut, akhirnya Zaki beringsut ingsut ke tempat duduk 5 anak itu.

“Kuceritakan semua. Tapi kau harus pasrah. Anggap ini hukuman buat kita, anak anak nakal,” Wandi memulai cerita.

Zaki makin bingung.

Wandi menerangkan bahwa mereka bertugas membantu kerjaan Hantu Mangun. Yaitu, membangunkan orang orang yang keluarganya akan meninggal.

Tugas Hantu Mangun ini hanya memberitahukan bahwa akan ada kematian pada keluarga seseorang. Hantu ini akan gentayangan di malam hari, mengetuk jendela, pintu atau bahkan menendang nendang dinding rumah orang yang akan diberitahu.

“Nah, ini tugas kita. Kita yang ngetuk jendela, gedor pintu atau nendang dinding. Kalau penghuni rumah sudah bangun, kita balik lagi ke sini,” terang Wandi.

Zakin makin merinding. Ia tiba tiba terbayang wajah Emak-nya yang sedih dan wajah Ayah-nya yang marah. Tetapi itu sudah terlambat.

Sekarang ia terpaksa berada di kamar gelap ini, bersama anak anak lain yang serupa nasibnya dengan dia.

“Sekarang Hantu Mangun, mana?” tanya Zaki.

“Ayo Zaki, giliran kamu ikut aku!”

Tiba tiba mahluk besar tinggi berjubah hitam muncul di tengah tengah ruangan. Wajahnya tak kelihatan. Zaki kaget sampai punggungnya menempel ke dinding di belakang tubuhnya.

“A… apa!”

“Berdiri! Ikut aku!”

Teriak mahluk itu. Wandi membantu Zaki berdiri. Sambil berbisik agar Zaki menuruti semua perkataan Hantu Mangun itu.

Hantu itu mencengkeram tangan Zaki, lalu dengan cepat dia terbang sambil membawa zaki di tangan sebelahnya.

Tengah malam buta itu Zaki melihat dari atas betapa luas kebun sawit di kampungnya itu. Di bawah sinar bulan, ia bisa melihat beberapa pondok dalam kebun sawit itu, masih dihuni orang karena terlihat api unggun yang masih menyala.

Mereka terus terbang hingga berhenti di satu atap rumah warga. Hantu Mangun pelan-pelan menurunkan Zaki. Setelah mendarat di tanah, hantu itu menunjuk pintu.

“Gedor!”

Zaki ketakutan.

“Gedor pintu itu!” teriak Hantu Mangun.

Zaki akhirnya menurut. Digedornya pintu rumah berdinding batu bata belum berplaster itu hingga 3 kali. Begitu mendengar suara sahutan orang dari dalam rumah, Hantu Mangun kembali mencekam tangan Zaki, lalu kembali dibawa terbang.

Dari atas ia bisa melihat betapa kebingungannya sang pemilik rumah, yang tak lain Pak Udin itu. Pelongok pelongok tetapi tak menemukan siapa yang mengetuk pintu di larut malam begini.

Esoknya, dapat kabar bahwa Rianto, ponakan Pak Udin, meninggal setelah kecelakaan tunggal di jalan lintas.

Zaki menangis. Wandi menatapnya prihatin di ruang yang sama itu.

“Sudahlah… Ini sudah nasib kita.”

Kata Wandi, menutup hari itu dengan jerit tangis ke 6 anak malang itu.(*)

* Monas Junior ialah nama pena dari Alpadli Monas. Seorang jurnalis tinggal di Provinsi Jambi. Monas Junior menerbitkan buku cerpen Aum (2001), Harimau Sumatera (2002), Apa yang Kau Lihat (2012) dan Novel Pemburu Emas : Legenda Bermula (2013).

Sumber: Jambiseru.com

No More Posts Available.

No more pages to load.