Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Surat Cinta : Sedang Kau by Monas Junior


Aku sedang duduk di teras rumah. Memandang ikan-ikan kecil di dalam kolam kecil sambil menahan kesal kepadamu. Kesal? Ya. Sedikit, tak pernah benar-benar kesal. Karena mencintaimu adalah hal terhebat yang pernah kualami, jadi semua aura negatif tentangmu akan selalu kukesampingkan, termasuk kesal-marah-kecewa dan sejenisnya.

Kenapa sedikit kesal?

Semua bermula sejak empat bulan setelah kita menghabiskan bulan madu. Kau menunjukkan aslimu, aku menunjukkan asliku. Kita tak lagi memakai topeng ketika itu.

Dari sejak hari itu hingga kini, aku dan hampir semua lelaki yang punya pasangan perempuan, sudah mengerti hukum kekekalan perempuan. Bahwa perempuan itu adalah pemenang pasal 1, perempuan kalau kalah harus dianggap pemenang pasal 2, kalau lelaki hampir menang harus minta maaf pasal 3 dan kalau perempuan kalah harus balik ke pasal 1.

Protes? Mana contohnya? Banyak, sayang. Sampai-sampai kami, para lelaki, tak bisa menjabarkannya satu per satu (setujukah lelaki?).

Kita mulai dari hal-hal sepele. Baiklah. Siap? Hehehe… (jangan cemberut gitu, sayang).

Satu hari aku menaruh baju kotor tidak pada tempatnya. Kau marah, ngoceh-ngoceh lalu menyalah-nyalahiku. Kau bilang aku membuat rumah jadi berantakan (hanya gara-gara sehelai baju kotor). Aku cuma diam, lalu minta maaf.

Waktu lain, aku sedang mengambil baju di lemari, kau datang cepat-cepat lalu memandang pasat-pasat ke arahku. Kau bilang, pelan-pelan, nanti berantakan kalau salah cara mengambilnya. Aku diam, lalu menurut, pelaaaaaan sekali kuambil baju itu.

(Sedang kau menaruh bajumu yang banyak di lantai, di gantungan dinding, belakang pintu tanpa peduli kerapian. Apakah kau salah? Tidak.)

Kali lain, aku sedang minum segelas teh, tanpa sengaja tanganku menyenggol gelas itu lalu tumpah. Kau melihat sambil cemberut kemudian ya seperti itulah, ngoceh-ngoceh bikin kupingku merah (padahal tak sengaja). Kau perintahkan aku untuk membersihkan meja itu dengan kain basah lalu mengeringkannya dengan kain kering. Aku cuma diam, lalu minta maaf.

(Sedang saat kau menumpahkan air di gelas ke lantai aku hanya diam. Tapi kau menatapku tajam, lalu mengeringkan lantai tanpa suara sedikitpun. Aku menahan diri untuk komentar, hanya bibirku yang senyum-senyum melihatmu. Kalau kukomentar, sah, ini jadi penyulut pertengkaran yang bagus!)

Hari entah kapan, aku membeli barang yang kuimpikan, kau lagi-lagi mengoceh, bilang aku boros dan tak perhitungan. Kembali diam, lalu minta maaflah aku.

(Sedang kau, saat jalan-jalan memintaku menemanimu beli ini-itu di luar kebutuhan rumah tangga tanpa perhitungan. Mengajakku ke sana-ke mari tanpa pertimbangan boros atau tidak. Kau tahu, aku cuma geleng-geleng melihatmu. –bagian ini terpaksa diedit karena ada yang protes, tuh kan!–)

Intinya (kusingkat saja, demi menghindari keributan dan sejenisnya, hehehehe…), apapun yang kau lakukan adalah benar, apapun keadaan kau adalah pemenangnya dan bagaimanapun argumentasi yang dikeluarkan kau harus menang.

Meski begitu, aku tetap mengalah karena mengalah adalah rumus utama kerukunan umat berumah tangga. Bukan takut, tapi lebih mencintai yang sangat.

(Maaf karena ini surat terpendek yang pernah kutulis untukmu, itu juga karena kau yang protes melulu).(*)

Source : Monasjunior Blogspot