Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Cerpen : Jangan Hujan Dulu, Aku Ingin Cerita


Oleh : Joy

Jangan hujan dulu, aku ingin cerita. Apa kamu masih ingat jalan yang kita lalui hari itu? Aspal jalanan berkerikil dan angin yang membelai pipi. Ketika titik-titik air mulai jatuh dan kita berlari kencang, tak peduli sepatumu basah karena genangan air. Aku mulai tertawa sambil mengambil tisu kering dan kuberikan kepadamu. Kamu bergegas mengelap air di kacamatamu. Ah, entah kenapa aku bisa melihat matamu dengan jelas waktu itu. Kedua mata yang menjadi pelangi yang selalu kucari.

Jangan hujan dulu, aku kan belum selesai bercerita. Tentang cita-cita masa kecilku menjadi seorang pelaut. Aku selalu suka dengan pemandangan hamparan laut yang aku lihat di setiap perjalanan pulang. Bahagia bisa duduk seharian di bebatuan pantai sambil memandangi lautan yang mulai pasang diiringi datangnya ombak. Semudah itu aku jatuh hati – mungkin rasanya sama seperti saat pertama kali melihatmu.

Iya, jangan hujan dulu, cerita ini belum selesai. Tentang rangkaian kata-kata yang diam-diam aku karang, sambil memandangmu dari kejauhan. Kata-kata yang kemudian aku karang menjadi puisi. Aku tahu kamu terkadang tak mengerti arti dari kata-kata dalam puisi itu, tapi setidaknya kamu mengerti inti dari isinya dan perasaanku tersampaikan olehnya.

Tunggu, jangan hujan dulu, cerita ini hampir selesai. Tentang harapan dan doa yang aku kirimkan ke langit setiap hari. Doa yang dimana kuucapkan namamu dan kututup dengan mengamini harapanku. Tentang mantra-mantra yang aku selipkan di setiap langkahmu, agar kamu selalu kembali. Tapi sayangnya aku lupa, doaku kurang sempurna. Kamu kembali, tapi bukan untuk aku, tapi untuk nama yang kamu sebut didalam doamu, dan tak pernah ada namaku didalamnya.

Kumohon, Jangan hujan dulu, aku ingin cerita. Aku selalu berpikir mencintaimu adalah hal yang terberat. Tapi diriku salah, ternyata melupakanmu itu segalanya lebih berat dari itu.

Mungkin, biarkan saja hujan turun, karena akhirnya membuatku tersedar, bahkan bumi pun perlu bersedih. Bukan hanya aku

Cerpen ini bersumber dari situs cerpenmu.com