Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suvarnabhumi dan Suvarnadwipa

 


Ketika melihat tulisan “Suvarnabhumi” di bandara Bangkok, Thailand, pikiran saya kemudian menerawang melihat Pulau Sumatera. Kata “Suvarnabhumi” sering disebutkan didalam dokumen-dokumen perjalanan petualang dunia yang pernah menjelajah atau ke Sumatera.


Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Swarnadwipa (“pulau emas”) atau Swarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi.  Ambil contoh prasasti Nalanda di India. Prasasti yang menyebutkan bahwa Balaputradewa adalah maharaja penguasa Swarnadwipa nama lain Sumatera ketika itu.


Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu Pulau Percha, Andalas, atau Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti "pulau emas"). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan swarnnabhūmi dan bhūmi mālayu untuk menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu" (Melayu) untuk pulau ini.


Sumatera tidak sekedar cerita tentang Pulau Emas. Tapi juga dibicarakan eksotisme alam liar nan indah atau kemasyuran Sriwijaya. Namun juga harus dibicarakan sebagai Pulau yang pernah menguasai jalur perdagangan selat Malaka, pemberontakan maupun perampasan sumber daya alam. 


Sumatera adalah tempat pertama sekaligus terakhir di Asia Tenggara yang ditemukan dunia perjalanan internasional. Sumatera adalah tempat pendaratan pertama di bidang pelayaran. Emas dari rangkaian pegunungannya, lalu kapur barus dari hutan-hutannya, menarik para pedagang dari seluruh dunia menuju magnet Suvarna-Dvipa – Tanah Emas. Karena itu, beberapa jejak seperti India, persia, Arab, China dapat ditemukan di Sumatera.


Sumatera telah ditulis oleh para penjelajah dalam berbagai bahasa seperti Arab, Persia, Italia, Perancis, Portugis, Belanda, Jerman, Indonesia dan Inggeris. Pandangan mereka beragam. Kadang mereka tidak mengerti dan terkesan tidak simpatik terhadap masyarakat di Pulau Sumatera. Mereka penuh syakwasangka tentang penduduk Sumatera.


Padahal kekayaan sumber daya alamnya melimpah ruah. Tan Malaka menuliskan kekayaan sumatera dengan jernih “Di perbatasan Deli dengan Aceh terdapat minyak yang berpusat di Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu dan Perlak. Di perbatasan Deli dengan Jambi terdapat besi. Seperti di Singkep, Bangka dan Belitung. Di Jambi sendiri terdapat timah. Bauksit di Riau dan alumunium di di Asahan, Deli. Belum lagi logam besi, timah”


Belanda berhasil menguasai daerah-daerah paling produktif di Sumatera dalam dua agresi militer pada 1947  dan 1948 – 1949.   Walaupun Belanda membentuk Pemerintahan Hindia Belanda tanggal 1 Januari 1800, namun perlu diingat bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.  Belum lagi berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856).


Sebagai karya monumental, William Marsden menyebutkan Sumatera sebagai “pulau yang misteri dengan pesona keindahan”. Dengan pendekatan historiografi, Karya Marsden merupakan prestasi didalam memotret Sumatera.


Ada pula seorang portugis, Tome Pires yang pada 1512 menyebut bahwa komoditas ekspor Jambi kala itu adalah kayu gaharu dan emas.

DR Lindayanty dalam bukunya Jambi dalam Sejarah 1500- 1942 juga mencatat literatur lawas perihal keberadaan emas tersebut. Ia bahkan menyebut angka fantastis mengenai ekspor Jambi yang semula didominasi komoditas lada lantas beralih ke emas.


Kembali ke Thailand.  Dengan didominasi penduduk beragama Budha (95%), Thailand mengesankan sebagai Negara menganut Budha dengan biksu-biksu yang berjejeran jalan ketika penolakan issu politik. Berbagai kampus-kampus bertebaran di Bangkok sebagai pusat studi dunia agama Budha.


Jejeran biksu-biksu yang berbaris kembali “menerawang” pikiran saya ketika membayangkan biksu-biksu yang belajar agama Budha di Candi Muara Jambi. Di komplek percandian yang terdiri dari 82 candi, para biksu menuntut ilmu dasar Budha sebelum ke pusat agama Budha di India.


Dari berbagai sumber disebutkan, kebesaran Candi Muara Jambi meninggalkan peradaban adiluhung yang jejaknya masih diikuti. Catatan I’tsing menegaskan bagaimana ramainya biksu yang mengambil ilmu agama Budha. Catatan I’tsing menyebutkan ada sekitar 6 ribuan biksu yang belajar pada periode waktu tertentu. Hingga kini tradisi masih dilanjutkan berdasarkan kalender-kalender resmi agama Budha dengan festival Budaya dengan kedatangan agama Budha di Candi Muara Jambi.


Sebagai salah satu agama tertua di dunia, agama Budha meninggalkan peradaban yang adiluhung. Ornamen yang didominasi warna kuning keemasan, aksara yang masih ditemukan di Bangkok hingga berbagai dialek percakapan yang melambangkan kemajuan peradaban di Bangko yang masih dijaga dengan baik.


Ingatan saya kemudian “membangkitkan” bagaimana kemajuan di Candi Muara Jambi dengan melihat kehidupan di Bangkok. Dan saya kemudian bersyukur melihat kehidupan di Bangkok dan “bisa” merasakan kemajuan di Candi Muara Jambi.


Data berbagai sumber