Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sejarah Bugis di Pantai Timur Sumatera


Ketika istilah “parit” ditemukan dalam percakapan di Jambi Hilir, ingatan saya kemudian menoleh ke Timur Indonesia (Sulawesi Selatan). Teknologi pertanian dan peradaban pengelolaan di gambut dengna menggunakan istilah parit kemudian memaksaku untuk menggali cerita tentang sejarah Bugis di Pantai Timur Sumatera.


Tome Pires didalam karya klasiknya “Suma Oriental” menerangkan pelayaran orang Bugis, Makassar dan Wajo Dari Sulawesi. Leonard Y. Andaya kemudian menyebutkan “perpindahan besar-besaran orang Bugis keluar kampungnya di Sulawesi Selatan dimulai pada paruh kedua abad ke – 7. Utamanya karena perang yang berujung pada labilnya keadaan politik”.


Sejarah Bugis di Pantai Timur Sumatera 



Awalnya diwarnai para pengungsi yang meninggalkan kampungnya demi menyelamatkan diri. Kemudian menetap di Semenanjung Malaya dan pulau-pulau sekitarnya sekitar abad 17-18.


Cerita tentang Bugis kemudian dapat dilihat didalam “Tuhfat Al Nafis” yang mewakili Melayu-Bugis”. Dengan jernih dijelaskan oleh Barbaya W Andaya, dibawah Sultan Mansur dari Melaka pada pertengah abad 15, wilayah di Sumatera sebagai daratan kemudian digabungkan dengan Kepualuan Riau-Lingga.


Cerita tentang “perintis” Bugis tidak dapat dilepaskan dari lima saudara dari wilayah Bugis yang dikenal Lima Opu. Sumpah setia dari Bugis kepada penguasa “terekam dalam Tuhfat Al nafis” dikenal “aruq” (Upacara pengucapan sumpah tradisional Bugis. Daeng Marewa (Kelana Jaya Putra) kemudian mengucapkan sumpah setia. Daeng Marewa kemudian dikenal sebagai Yang Dipertuan Muda (lafal Bugis menyebutkan YamTuan Muda). Kesetiaan dan tanda bakti “Aruq” sebagai bakti dan kesetiaan kepada penguasa.


Sedangkan menurut Hikayat Siak, Raja Kecik adalah pewaris sah dari tahta Johor. Belanda kemudian mematahkan wilayah kekuasaan Raja Haji tahun 1784 yang penguasaan di Riau. Kemudian menyingkirkan Raja Muda Ali. Mereka kemudian menyingkir ke Lingga, Mempawah menuju Sukadana.


Selain itu persaingan Inggeris dan Belanda kemudian Inggeris mendirikan Penang. Bahkan berkuasa atas Malaka. Bahkan semakin berkuasa ketika ketika Belanda jatuh ke Napoleon dan mulai mempengaruhi pantai Timur Sumatera dan Kerajaan Johor. Inggeris kemudian berhasil mendapatkan Singapura sebagai “appanege. Cerita tentang Singapura kemudian menjadi pelabuhan bebas dan menjadi pelabuhan penting ketika pedagang tidak singgah di Riau. Sejarah Bugis kemudian memanjang ketika konflik antara Belanda dengan Arung Belawa (Wajo), kerabat Istana Sidenreng.


Sedangkan cerita tentang Siak tidak dapat dilepaskan dari perseteruan dengan Kerajaan Johor. Raja Kecil semakin melemah. Setelah kematiannya tahun 1746, Putra-putra Raja Mahmud dan Raja Alam saling berebut. Raja Alam hanya mendapatkan kekuasaan 1753 kemudian tenggelam. Kemudian dipaksa keluar dari Siak dan pindah  ke Siantan.


Kembali menelusuri jejak Bugis di Pantai Timur Sumatera. Christian Pelras kemudian menyebutkan, pertemuan pengaruh awal Melayu dimulai dari Kerajaan Melayu.


Setelah kejatuhan Makassar oleh Belanda tahun 1666, bangsawan Bugis memimpin petualangan ke wilayah Barat seperti pantai timur Sumatera dan pesisir Kalimantan, Semenanjung Melayu, Riau, Jambi dan Bengkulu. Jejaknya masih bisa diikuti hingga kini.


Pembukaan pemukiman Bugis besar-besaran kemudian didukung oleh Penguasa Johor yang berfikir maju. Dan semakin maju ketika mendirikan Johor Baru tahun 1878.


Semakin banyaknya bermukim di Johor kemudian ketika Belanda menguasa seluruh Sulawesi Selatan tahun 1906. Selain itu kemudian menyebar dan menghuni daerah-daerah pantai timur Sumatera. Mereka kemudian mulai mengelola hutan bakau, Teknologi pertanian, arsitektur kayu, tenun, memasak, teknologi besi sebagai perbandingan budaya material dan menanam kelapa. Kopra kemudian sangat laku. Tahun 1929 dikenal sebagai tahun keemasan.


Mereka kemudian mengenal istilah “parit”. “Parit” kemudian sebagai tanda pemukiman. Atau sebagai “batas tanah”. Seperti ““mentaro”, “Prenggan”, “Pasak mati” atau “Patok mati” (hilir Jambi). Atau “takuk pohon”. “tuki”, “sak Sangkut”, “hilang celak. Jambu Kleko”. Atau Cacak Tanam. Jambu Kleko”. Ada juga menyebutkan “Lambas” (Uluan Jambi)


Di Desa Sungsang, dikenal “kepala parit. Kepala Parit adalah “kelompok yang membuka areal. Berbagai Desa-Desa di Tanjabbar dan Tanjabtim kemudian mengenal istilah “parit”.


Namun di Desa Lumahan, Kepala parit sebagai Kepala Pemerintahan. 


Di Desa Sungai Beras dikenal “Parit Alamsyah di buka Oleh Bapak Alamsyah, Parit Sungai Buluh Dibuka Oleh Bapak Ali Flores, Parit Sungai Budaya Dibuka Oleh Bapak Sa’ka, Parit Senang Dibuka Oleh Bapak Renggeng, Sungai Beras di buka Oleh Bapak Arbain, Parit Teluk Pagar di buka Oleh Bapak H. Kusnan, Parit Gudang di buka Oleh Bapak Ismail Ab, Sungai Bamban Dibuka Oleh Abdus Shomad, Sungai Beringin di buka Oleh Bapak Dahlan, Sungai Apuk di buka Oleh Induk Apuk, Parit Sinar Sulawesi di buka Oleh Bapak H. Saleh, Sungai Gudang di buka Oleh Bapak Asnawi, Parit Jawa timur di buka  Oleh Bapak Thayib, Sunga Papan di buka oleh Bapak Lauduk, Parit Selamat di buka oleh Ambo Tuo,Sungai Nibung di buka Oleh Bapak Gadur, Teluk Perancis Dibuka Oleh H. Kubek, Parit Antara Dibuka Oleh Bapak Zaini, Parit Harapan di buka Oleh Bapak Harpan, Parit Buta-Buta di buka Bapak Lacong.


Dengan demikian maka istilah “parit” adalah jejak peradaban Bugis di Jambi. Teknologi yang dibawa ke Jambi hilir yang kemudian memperkaya pengelolaan Gambut di Jambi.


Data berbagai Sumber