Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

opini musri nauli : Umbu Landu Paranggi




Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan

Karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah

Kehidupan

Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi 

Suara-suara diluar sana

Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa

Langkah kemana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara


Dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti

Kehadirannya

Membuka diri, bergumul dan menyeru hari-hari

Tergesa berlalu


Meniup Seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran 

Waktu

Dalam kerja berlumur suka duka, Hikmah rahasia melipur 

Damai

Begitu Berarti kertas-kertas dibawah bantal, penanggalan

Penuh coretan

Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras

Bujukan


Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,

Bahagia Sederhana

Dirumah Kecil papa, tapi bergelora Hidup kehidupan dan

Berjiwa


Kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan

Impian

Yang Teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan

Kedua tangan

(Pusara, No. 43/1, Januari 1974)

 


Ketika malam tadi hendak chatting di group WA, pukul 21.49 wib, Umbu Wulllang Peranggi kemudian mengirimkan kabar “Terima kasih Ketua🙏🏽🙏🏽. Ayah dalam kondisi tidak sadarkan diri di salah satu RS di bali🙏🏽🙏🏽. Mohon doanya, besok saya akan ke Bali. Minta maaf teman NTT belum bisa ikut simulasi besok karena listrik belum jadi dan hotel masih banyak pengungsi. 


Umbu Wullang Peranggi (Umbu) kukenal sebagai Direktur Walhi Nusa Tenggara Timur (Walhi NTT).  Waktu itu, Walhi NTT bersama-sama dengan masyarakat adat di Pulau Sumba (mereka lebih sering menggunakan dialek “Humba”),  Sedang mengadakan Festifval Wai Humba V di Sumba Timur. 


Festival ini diadakan sebagai rangkaian kegiatan menyusuri tempat-tempat sumber air dan tempat yang dikeramatkan dengan leluhur Humba. 


Ritual diadakan menyusuri seperti Wai humba terdapat di Wai Ngupa (Kabupaten Sumba Timur), Wai Bakul (Kabupaten Sumba Tengah), Wai Kabulaka (Kabupaten Sumba Barat) dan Wai Tabulaka (Kabupaten Sumba Barat Daya). Keempat pusat “wai” merupakan muara air sungai yang mengairi keseluruhan pulau Sumba.


Keempatnya berasal dari Empat Gunung yang dihormati. Seperti Gunung Wangga Meti (Kabupaten Sumba Timur), Tanah Daru (Kabupaten Sumba Tengah), Yawila (Kabupaten Sumba Barat Daya) dan Puru Humbu (Kabupaten Sumba Barat). Keempat pusat air diyakini harus dijaga sebagai sumber kehidupan.


Keempat wai ini bermula dari turunnya “leluhur” Himba di Tanjung Haharu”. Leluhurnya diyakini bernama Umbu Walumaduko. Berbagai napak tilas selain menyusuri perjalanan leluhur juga menghormati tanah-tanah keramat, benda-benda magis, tanah kapur dan tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat yang dihormati.


Sayapun bergegas berangkat kesana setelah sebulan sebelumnya dikabarkan akan diadakan Festifal Way Humba. 


Selama proses berlangsungnya acara, ada keheranan di pikiran saya. Saya lihat begitu “berpengaruhnya” Umbu ditengah masyarakat. 


Saya kemudian mengenal istilah “umbu” untuk lelaki. Dan “Rambu” untuk perempuan. Panggilan Umbu atau Rambu hanya diberikan kepada anak dari tokoh adat yang sangat dihormati. 


Sempat juga saya tanyakan. Namun sepertinya Umbu enggan menanggapinya. Dengan santai dia berujar, “panggilan umbu diartikan sebagai panggilan akrab, ketua”, katanya sambil tersenyum. 


Juga sempat saya tanyakan tentang tokoh sastra yang terkenal di Yogya. Namun lagi-lagi dia enggan untuk menanggapi. 


Pertanyaan demi pertanyaan Saya simpan. Namun pertanyaan mengganggu justru saya lihat di lapangan. Bagaimana tokoh-tokoh adat begitu menghormati Umbu. 


Sebagai orang Melayu Jambi, saya pasti paham. Ada ruang dan dimensi yang membuat orang begitu dihormati. 


Perlawanannya terhadap perusahaan tambang sekaligus sikapnya tidak berkompromi tidak semata-mata dia berlatar belakang Direktur Walhi NTT. Setelah sebelumnya pernah berkarir di JATAM. Salah Satu jaringan anti tambang tingkat nasional. 


Namun tuturnya yang begitu “membungkam” membuat saya yakin. Pasti ada yang “istimewa’. Tidak sekedar aktivis biasa yang menolak tambang. 


Dan jawabannya kemudian saya temukan. Ketika berbagai sileweran ucapan duka cita terhadap Umbu dan meninggal ayahnya. 


Seketika itu ingatan Saya melayang ketika awal-awal saya ketemu dengan Umbu. Seorang tokoh sastra berpengaruh di Yogyakartanya. 


Puisi-puisinya kemudian menjadi bahan kajian berbagai karya ilmiah. Entah Skripsi, tesis bahkan karya ilmiah yang dimuat di berbagai jurnal. 


Ketika sang putranya, Umbu kemudian bersekolah, sempat kudengar cerita. Umbu yang mengikuti jejak ayahnya di Yogya kemudian menjadi sorotan. Bahkan sastrawan Emha Ainun Najib begitu mencintainya. Sehingga jam berapapun datang, Umbu selalu dibukakan pintunya. 


Pertanyaan yang “sempat terkunci” akhirnya terjawab. Berbagai misteri seperti penggunaan nama “umbu”, Umbu begitu dihormati masyarakat di Way Humba bahkan cerita tentang Emha yang membuka pintunya jam berapapun. 


Teringat dengan perkataan orang Kampung. “Tuah” dari orang besar selalu turun kepada generasinya. 


Meminjam pepatah Melayu “Buah tidak jauh jatuh dari batangnya”. 


Selamat berduka, Kawan umbu. Salam hormatku kepada ayahanda. 

Semoga engkau tabah menjalaninya.