Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

opini musri nauli : Geger Negeri Astinapura

 

Syahdan. Ditengah kesunyian malam hari, ketika penduduk Astinapura mulai beranjak ke peraduan, terdengar suara lirih. Membincangkan putra mahkota Kerajaan Astinapura.


“Daulat, pangeran yang mulia. Sudah saaatnya kita harus tampil di alun-alun istana Astinapura. Mengabarkan tahta mahkota kepada tuanku. Tuanku lebih berhak untuk mendapatkan tahta mahkota”, kata sang pangeran paling muda. Wajahnya masih segar. Terlihat aura wajah olah kanuragan. Ototnya kekar.

“Hamba siap mengabdi kepada tuanku”, tambahnya.

“Jangan dulu, pangeran muda. Rakyat Astinapura lebih menyukai adipati yang memenangkan pertarungan di alun-alun istana Astinapura. Rakyat Astinapura bisa marah dan menolak usulan kita”, sanggah Pangeran.

“Tuanku. Menurut tradisi di Kerajaan Astinapura. Tuanku lebih berhak memegang tahta mahkota Kerajaan Astinapura. Demikian dituliskan didalam kitab-kitab kerajaan”, desak sang pangeran muda.

“Jangan adikku. Pergantian purnama telah menyisaratkan kepada kita. Kita tidak boleh lagi merebut istana Astinapura. Pemenang dari pertandingan di alun-alun istana lebih baik diterima. Agar rakyat Astinapura tidak dikecewakan”, lanjut sang Pangeran.

“Percayalah. Adipati yang berhasil memenangkan pertarungan di alun-alun istana mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi. Tapa bratanya sudah lama. Bahkan para resi istana menyetujuinya”, kata sang pangeran.

“Bahkan rakyat Astinapura menyambutnya. Dimana-mana, berbagai umbul-umbul segera dibentangkan. Menyambut kehadirannya.

Lihatlah. Berbagai kerumuman pasar yang didatangi oleh Adipati begitu riuh. Semua bersukacita dan ingin memeluk adipati. Lihatlah, para pangeran”, lanjut sang pangeran.

“Percayalah. Leluhur para raja-raja Kerajaan Astinapura telah merestuinya. Semoga para dewata mengabulkan doa rakyat Astinapura”, harap sang pangeran.

“Baiklah, tuanku pangeran. Hamba akan berbakti kepada Raja Kerajaan Astinapura. Hamba tidak akan berkhianat terhadap amanah dari tuanku.

Baiklah, tuanku. Hamba akan pamit mengundurkan”, sembah sang pangeran muda. Seraya bergegas meninggalkan paseban kerajaan Astinapura.