Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Nama Tempat (6)




Penghormatan terhadap sungai ditandai dengan menjaga yang ditandai dengan istilah “Kepala sauk”. “Kepala sauk” tidak boleh dibuka yang dikenal sebagai “pantang larang”. Sehingga yang dilanggar mendapatkan sanksi “sanksi Guling Batang berupa Kambing sekok, beras 20 gantang, kelapa, selemak semanis


Bahkan Sultan Thaha Saifuddin berhasil menyerbu markas Belanda di Muaro Kumpeh. Pasukan Belanda dan dibawah pimpinan Mayor Van Langen kemudian dikalahkan. Walaupun Belanda didukung oleh 30 buah kapal perang dan 800 personil serdadu Belanda pada 25 September 1858


Sungai Kumpeh juga merupakan Sungai yang menghubungkan antara Marga Kumpeh Hilir, Marga Kumpeh Ulu dan Marga Jebus


Belanda juga menggunakan Sungai Batanghari kemudian mengejar Sultan Thaha dan kemudian mengepung sehingga Sultan Thaha Saifuddin  tertembak tahun 1904.


Sungai merupakan “urat nadi” perekonomian. Merupakan jalur perdagangan yang digunakan hingga akhir tahun 1990-an sebelum illegal logging marak dengan kemudian menyebabkan pendangkalan Sungai Batanghari. 


Selain itu pergeseran kebijakan orde baru yang memindahkan jalur sungai ke jalan raya dalam distribusi ekonomi menyebabkan pergeseran pola perpindahan penduduk dari Sungai menjadi bermukim di pinggir Jalan. 


“Jejak” Sungai masih dilihat dengan menyusuri perjalanan sungai Batanghari. Setiap desa yang berada di pinggir sungai terdapat dusun-dusun tua yang ditandai dengan rumah-rumah panggung. 


Melihat rangkaian yang telah diuraikan maka terbukti sungai merupakan “identitas” dan “jalur ekonomi” dan menghubungkan antara desa satu dengan desa lain maupun antara satu marga dengan marga yang lain. 



Sungai yang membentang dari hulu sampai hilir Jambi adalah sungai Batanghari. Sungai ini merupakan jalur penting bagi pelayaran perdagangan dan bukti mengetahui peradaban yang ada di pedalaman Jambi. Lain daripada itu, sungai Batanghari merupakan jalur pelayaran dan perdagangan terpenting bagi masyarakat Jambi. Ia memiliki peranan penting dalam budaya, ekonomi, dan politik Jambi dengan banyaknya pendatang yang menggunakannya sebagai jalur untuk bisa keluar-masuk ke pedalaman Jambi. 


Adrianus Chatib, dkk, didalam bukunya Kesultanan Jambi dalam Konteks Sejarah Nusantara menyebutkan “Dengan memiliki sungai yang panjangnya dari hulu (Sijunjung) langsung bermuara ke laut timur Sumatera (Tanjung Jabung) dan langsung bertemu dengan selat-selat penting di pantai timur Sumatera. 


Uka Tjandrasasmita didalam bukunya  Beberapa Catatan Tentang Perdagangan di DAS Batanghari Hubungannya Dengan Jalur Perdagangan Internasional Pada Abad-abad Pertama sampai Abad XVI” menyebutkan “Sungai Batanghari bermuara di Tanjung Jabung Timur dan langsung bertemu dengan Selat Berhala, Selat Karimata, laut Natuna, dan Selat Malaka. 


Sedangkan Saifullah didalam acara Seminar dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara menjelaskan “Selat dan laut ini merupakan jalur pelayaran yang penting karena menghubungkan pelayaran dan perdagangan Asia. Selat Malaka yang menjadi jalur pusat lalu lintas pelayaran perdagangan internasional karena posisinya yang menghubungkan dengan perairan Asia TImur – Asia Tenggara – Asia Barat atau sebaliknya.


Sedangkan Prof. Slamet Muljana didalam bukunya “Sriwijaya” dan beberapa ilmuan lainnya lebih cenderung berkesimpulan bahwa Jambi adalah pusat Kerajaan Sriwijaya dibandingkan Palembang yang ‘diakui’ secara resmi hingga saat ini. Oleh karena itu, beragam kekuatan yang membentuk kerajaan muncul di wilayah Jambi, dimana catatan sejarah memulainya dengan adanya Koying, Tupo dan Kantoli dalam periode Melayu Kuno di abad ke-3 sampai abad ke-5 Masehi. 



Advokat. Tinggal di Jambi