Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Makna Simbolik Tanda Jadi

 


Dalam tradisi Melayu Jambi, prosesi “melamar” dikenal dengan istilah “tanda Jadi’. Tanda jadi adalah “pengikat” antara sang calon mempelai perempuan dengan seorang lelaki calon mempelai laki-laki.

Prosesi dimulai dengan “kedatangan” keluarga besar calon laki-laki kerumah calon mempelai perempuan. Diiringi keluarga besar baik didampingi “maman” (saudara laki-laki ayah atau saudara laki-laki perempuan), Ibu/nenek, saudara perempuan sang lelaki, bahkan saudara-saudara lelaki. Keluarga besar kemudian mempersiapkan acara ini secara khusus.

Keluarga besar lelaki sengaja mendatangi kerumah keluarga besar sang perempuan untuk “menanyakan” adanya “kemenakan dari datuk” yang sudah “berusik sirih bergurau pinang” dengan “anak kemenakan” dari keluarga lelaki.

Kedatangan juga sekaligus “memastikan” kepada keluarga besar perempuan “apakah sang anak kemenakan perempuan” belum ada pengikat dari lelaki lain. Dan juga menanyakan “apakah anak kemenakan perempuan” mau diikat janji dengan “anak kemenakan lelaki” yang datang.

Sebagai pengantar “tando Jadi”, maka rangkaian acara dipersiapkan dengan baik. Termasuk mempersiapkan “tokoh adat” pengantar dan sekaligus menjadi jurubicara dari keluarga lelaki.

Setelah kedatangan “keluarga besar lelaki”, sang pembaca acara kemudian memimpin acara. Sekaligus memandu acara dengan berbagai rangkaian.

Rangkaian dimulai dari sambutan dari sang pembawa acara, ummul kitab, sambutan dari sohibul hajat (tuan rumah), rangkaian acara penyerahan “tanda jadi”, persetujuan dari sang tuan rumah dan diakhiri dengan doa bersama.

Berbagai seloko kemudian disebutkan. Dimulai dari “yang gedang dak disebut gelar, yang kecik dak sebut namo”, kecik nan sakti, gedang nan betuah”, “rumah nan bepagar adat, nan laman bepagar undang dan bertepi baso”, “ico pakai”,

Hubungan istimewa antara kedua pasang ditandai dengan seloko “berusik sirih-bergurau pinang”. Hubungan yang kemudian dapat dilanjutkan untuk jenjang selanjutnya.

Proses mengantarkan “tando Jadi” cukup panjang. Dimulai dari kedatangan dari calon sang mempelai lelaki untuk menyampaikan maksud kedatangan.
Dilepaskan ayam seinduk, serai nan berumpun, bak kudo pelajang bukit, saya penyambung lidah daripadonyo
“Kami idak sesat, idak pula salah jalan, memang tujuan kami kerumah ikolah.
Kami membawa orang nan banyak, beserta arak dengan ber-iring”, cepat kaki-salah langkah, cepat lidah salah bekato, kami mohon dimaafkan.

Prosesi selanjutnya mengantarkan sirih. Sebagai pembuka cerito, maka dimulai dari Seloko “Gemerutuk main gendang. Kini seraso main orgen. Sirih kelukup, pinangnyo memang. Inilah sirih kami orang tanjung raden

Tuan rumah kemudian mencicipi sembari menyodorkan sirih “Dari perentak ke pulau pekan. Singgah di pasar membeli tembakau.  Sirih teletak, silahkan dimakan. Awal sembah pemulaan kato.
Kemutuk bunyi gendang. Bunyi gendang anak rajo jambi. Sirih pinang kami hidangkan. Inilah ado didepan kami. Inilah pemakan kami.

Setelah itu, barulah tuan rumah menanyakan maksud kedatangan tamu dengan memulai “Kami nak betanyo kepada datuk. “nak ngudut idak berapi, nipah digulung pake tembakau. “apo nian maksud Datuk datang kemari. Biasanyo datuk datang seorang beduo. Iko serombongan nian.
“Nampaknya jauh datuk dengan pengiring. Kami sambut dengna sejernih hati.

Selanjutnya “prosesi tando jadi” dengan seloko “Berusik sirih bergurau pinang.
Kok mabuk sirih lah dimakan sirih. Kok mabuk pinang dimakan pinang.  Adat padang kepanasan. Adat tumbuh menyarokan. Adat tuo menanggung ragam. Adat mudo menanggung rindu.
“kok bejalan ke ulu” lah sampai kebatas. Kok bejalan ke ilir lah sampai ke muaro.
Esok awak kebukit, tekenang di aek. Awak dirumah tekenang diangin
Pandangna mato lah tetumbuk. Pandangan hati lah tetaut. Lah dak dapat dipisahkan lagi. Dianjak laye, diangggun mati.

Ke bukit nak samo mendaki, kelurah nak samo menurun. Mudik nak serentak-sesatang, hilir nak sedengkuh dayung.
Seringgit tengah-tengah delapan. Sebulan 30 hari. Sediikit samo-samo dimakan.  Idak ado samo-samo dicari.

Pertanyaan selanjutnya ditanyakan kepada datuk “ibarat kebun bungo, lah ado yang memagarnyo ?.

Sang Datuk kemudian menyambut “Kalo sepenglihatan kami “Belum ado “bekedip mato. Mengantar tando.

Proses kemudian diserahkan “tando jadi”. Sebagai pengikat hubungan. “Biak dak diganggu orang. Biak diikat dalam halaman rumah”.

Namun yang unik, kedua belah pihak yang diutus datuk sebagai jurubicara, keduanya saling memuji. Lihatlah kata pengantar dari Datuk tuan rumah “Bukan biduk sembarang biduk. Biduk kami dari kayu sungkai. Bukan duduk sembarang duduk. Kami disini disuruh-suruh tuo-tuo tengganai.
Jadi kami mohon maaf. Seharusnya datuk duduk-duduk ditengah, kami duduk dipinggir.

Pasang cemeti, camar-camar, dapat udang duo-duo. Dari kecik kami dak pernah belajar. Lah gedang malu betanyo pulo. Lah tuo pelupo pulo.  Jadi kami dak pandai berpantun apo lagi bersyair pulo

Selain itu setiap seloko dibalas sembari senda gurau. “Kecik dak sebut namo, gedang dak sebut gelar” yang kemudian dibalas “kecik besakti, gedang betuah”.

Prosesi “tando jadi” berusik sirih bergurau pinang adalah prosesi kehidupan yang masih hidup ditengah masyarakat Melayu Jambi. Setiap prosesi kehidupan selalu mengagungkan kemanusiaan dengan derajat tertinggi.

Senda gurau, saling berseloko, saling merendahkan sembari memuji adalah bagian dari kehidupan. Suasana tertawa seiring selama pertemuan.

Kekayaan budaya yang tidak mungkin luntur. Sebagaimana seloko “dak lapuk dek hujan, dak lekang dek panas”.

Denyut budaya yang mengalir terus menerus. Bertahan sepanjang zaman.

pernah dimuat di www.jamberita.com, 4 Februari 2019