Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (9)

Jambiseru.com | Update Berita Jambi - Update Berita Jambi Terseru, Nasional, Lifestyle, Entertainment, Film, Musik

Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (9)

JAMBISERU.COM – Mengikuti perjalanan Al Haris ke arah Timur Jambi mengingatkan sejarah panjang di Tanjung Jabung Timur.

Baca Juga : Mahasiswa Demo di Luar, Ketua PDIP Jambi Ini Malah Rapat di Dalam

DALAM peta Belanda “Schetskaart Residentie Djambi – Adatgmeenschappen (Marga’s), disebutkan wilayah Tanjung Jabung Timur terbagi kedalam dua marga. Pertama Marga Dendang/Sabak. Marga Berbak.

Didalam Peta Belanda disebutkan Pusat Marga Dendang/Sabak berpusat di Muara Sabak. Sedangkan Marga Berbak berpusat di Rantau Rasau.

Selain nama tempat Muara Sabak, Marga Sabak/Dendang juga disebutkan nama tempat Mendahara. Mendahara yang disebutkan terletak di tepi laut Tiongkok Selatan.

Ditengah masyarakat dikenal ditepi laut. Atau ada juga yang menyebutkan “muara laut”.

Sedangkan di Marga Berbak selain Rantau Rasau disebutkan juga nama tempat “nipah panjang”. Nama-nama tempat seperti Rantau Rasau dan Nipah Panjang dikenal sebagai “lumbung” padi untuk Provinsi Jambi hingga awal tahun 70-an.

Khusus Nipah Panjang kemudian dikenal daerah transmigrasi tahun 1972.

Syamsul Watir M yang yang berjudul “Petani Bugis, Ahli Persawahan Pasang Surut” dan “Petani dan Persawahan Pasang Surut” yang dimuat di berita Buana, Senin, 26 April 1976.

Istilah “persawahan pasang surut” adalah tema yang menarik perhatian publik. Istilah persawahan pasang surut dapat dilihat dari peradaban Bugis di Jambi.

Istilah “pasang surut” mengingatkan istilah “rawa” merupakan istilah dalam catatan-catatan seperti dituliskan didalam buku “Diaspora Bugis, Identitas dan islam di Negeri Malaya, dalam “Diaspora Bugis di Alam Melayu Nusantara, Penerbit Ininmawa, Makassar, 2010.

Sedangkan Marga Berbak dikenal di masyarakat Rantau Rasau. Wilayah adat Rantau Rasau dikenal dipimpin Pangeran Wira Kusumo.

Didalam Marga Berbak juga dikenal Sungai Rambut. Sungai Rambut dikenal sebagai Wilayah Teluk Harimau.

Kembali ke Marga Dendang/Sabak. Menurut berbagai sumber, kata “mendahara” berasal dari kata “bendahara”. Bendahara karena keadaan alam yang melimpah ruah. Masyarakatnya tidak perlu bersusah payah untuk menikmati hasil lautnya. Alam menyediakan kebutuhan masyarakat.

Mendahara dikenal sebagai “pintu” pelabuhan hasil perdagangan masyarakat Jambi. Mendahara kemudian dikenal sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Baca Juga : Akun FB Atas Namakan Tim Haris-Sani Rasis, Nauli : Dipastikan Bukan Tim!

Desa yang termasuk kedalam Kecamatan Mendahara adalah Desa Pangkal Duri, Desa Mendahara Tengah, Desa Lagan Ilir, Desa Sinar Kalimantan, Desa Sungai Tawar, Desa Bakti Idaman, Desa Merbau dan Desan Pangkal Duri Ilir. Dengan satu Kelurahan Mendahara Ilir. Mendahara Ilir juga dikenal sebagai pusat Kecamatan Mendahara. (*)

*) Direktur Media Publikasi dan Opini Tim Pemenangan Al Haris-Sani.

 

The post Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (9) appeared first on Jambiseru.com | Update Berita Jambi.



source https://www.jambiseru.com/berita/2020/05/11/opini-musri-nauli-perjalanan-betuah-9